Well guys, welcome back on another 'sambat post.'
Kali ini, seperti yang kita semua sedang keluhkan, gue mau curhat soal lockdown, PJJ dan antek-anteknya.
Sejak Januari lalu (atau malah desember?), dunia lagi digegerin sama virus baru yang nama panggilannya SARS-CoV-2, dan nama panjangnya Severe Acute Respiratory Sindrome Coronavirus 2 (bayangin pas dia ujian, ngisi kolom namanya gimana.) Sebenarnya ini bukan virus baru, guys. Di tahun 2002, virus ini udah sempet jadi biang kerok pandemi waktu itu, yang gejalanya yaa kurang lebih sama lah sama penderita COVID sekarang ini. Sama kayak korona, virus ini juga pertama kali ditemukan di China, lalu menyebar ke seluruh dunia.
Untungnya, si virus SARS ini dapat segera dibendung. Jadi ga terlalu parah makan korbannya.
Nah masalahnya, sekarang si SARS ini balik lagi, tapi pake nama baru dan sistem pertahanannya baru juga; tambah canggih, gitu ceunah. Dia udah gak mempan dipakein obat yang dulu dipake pas Pandemi SARS 2002. Jadi, ya ... Karena semua orang bisa sakit tapi ga semua orang bisa bikin obat, banyak orang diminta untuk tetap di rumah, dan hanya para dokter, ilmuwan, polisi, serta segelintir profesi vital negara lainnya yang diperbolehkan buat tetep kerja di luar rumah.
Sampai obat dari penyakit ini ketemu, orang-orang tetep diminta buat tetep di rumah dan mengurangi interaksi dengan orang luar; memperkecil kemungkinan penyebaran virus ini makin menjadi.
'Loh rin, tapi kok udah banyak yang sembuh? Katanya obatnya belum ketemu?'
Ya, emang, obatnya belum ketemu. Jadi sebenarnya, penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya kalo tubuh kita punya sistem pertahanan yang cukup kuat dan mampu buat membasmi habis virus ini dari paru-paru kita. Masalahnya adalah, kita gak tahu apakah imunitas kita termasuk yang 'mampu melawan' atau engga. Kita juga ga tau, asupan macam apa dan kapan aja yang tubuh kita perlukan buat mendukung kemampuannya melawan virus ini. Maka, pasien terjangkit COVID-19, kalo dirawat di rumah sakit, ya cuma diberi fase istirahat yang lebih intensif serta beberapa obat/vitamin yang mampu mendukung tubuhnya biar lebih siap membasmi si konoha ini.
Eh, korona ding.
Kalo setelah 'didorong' sedemikian rupa oleh fasilitas rumah sakit, tubuhmu bisa ngelawan, congratulations. Kamu berpotensi sembuh.
Kalo setelah semua itu belum terlihat kemajuan apa-apa, minta sama Tuhanmu. Karena cuma Dia yang tahu, keajaiban harus diutus kapan buat turun ke bumi.
Dan, kalo udah ga ada harapan, jangan sedih. Itu artinya Tuhanmu udah kangen sama kamu; biar kamu gak perlu menghadapi hidup di bumi yang kejam ini lagi. Biar kamu aman dan nyaman terus di sisi-Nya.
Nah, saat semua itu terjadi di rumah sakit, apa yang terjadi pada dunia?
Panjangnya, roda ekonomi macet; para pekerja kehilangan penghasilan, para pelajar mati-matian mencari fokus di sela kewajiban, medalis olimpiade mengubur harapan, pemerintah dunia kewalahan, dan tulang punggung keluarga serabutan mencari makan.
Singkatnya, dunia tetap berputar; tapi manusia hanya mampu diam di tempat.
Untungnya, manusia adalah spesies hewan dengan kemampuan problem solving paling mutakhir. Jadi, di tengah pandemi parah ini, masih ada segelintir orang-orang berkuasa yang sempat muter otak, biar dunia ini bisa 'bangkit kembali' setelah semua keterpurukan yang melanda, dengan cara mengubah tradisi umat manusia.
Yep, new normal adalah pilihan yang diambil banyak negara. Termasuk, negara lucu tempat lahir kita semua ini; Indonesia.
Indonesia adalah salah satu negara yang, pada akhirnya, punya jumlah kasus tertinggi di asia—bahkan dunia. Padahal pas awal-awal muncul korona ini, netijen dan sitijen kita yang budiman malah pada bikin guyonan dimana-mana dengan header, '10 Alasan Mengapa Korona Sulit Memasuki Indonesia' atau 'Virus Korona Ditemukan, Netizen : "Ah, Cuma Flu"' atau 'Korona Mewabah, Indonesia Mengklaim "Sudah Kebal"'
Who's laughing now?
Balik lagi ke New Normal.
Karena Indonesia kena dampak wabah ini dalam taraf yang lumayan serius, ngikutlah negara kita ke tradisi New Normal ini. Yang normalnya orang keluar cuma pake make up di muka, sekarang normalnya pake masker. Yang normalnya di saku cuma ada ponsel sama dompet, sekarang hand sanitizer masuk ke daftar barang wajib juga. Yang normalnya orang pake kacamata satu doang, sekarang didobelin sama face-shield. Yang ga ngikutin semua itu dianggap 'ga normal'.
Salah satu putusan lucu berkedok 'demi keamanan dan kenyamanan bersama' yang diambil Indonesia tercinta kita ini, demi New Normal katanya, adalah pembelajaran daring.
Kenapa gue sebut lucu?
Karena jelas, MASYARAKAT KITA BELUM SIAP WEH.
Ya—kalian liat sendiri lah; negara kita ini pembangunannya sangat timpang. Ga rata. Memang banyak kota-kota kita yang mallnya bertebaran di seluruh penjuru, tapiiii ada juga daerah yang bahkan masyarakatnya heran sama eskalator. Ada pula restoran kota yang sistem bayarnya udah pake QR code, tapi banyak juga masyarakat kita yang bahkan gatau bedanya kartu ATM, debit, kredit sama kartu TimeZone—intinya ga semua warga negara tercinta kita ngerti lah soal perkara zaman millenial ini.
Hellaw. Secara, kita bukan United Kingdom atau New Zealand yang sekolahnya udah siap make sistem belajar online dari kapan hari. Yang mana masyarakat miskin di negara tersebut aja tau twitter, tau snapchat, tau skype; lah orang-orang kita?
Yang bikin gue kesel adalah, pemerintah seolah menutup mata, telinga, pundak lutut kaki lutut kaki—gak, maksudnya, kayak ga peduli gituloh sama kontra dan protes kita soal Pembelajaran Jarak Jauh dan sistem daring ini. Indonesia itu negara dengan ratusan bahkan ribuan kultur brou, yang mana itu masih kental dan dihargai dalam masyarakat kita. Salah satu diantara kultur tersebut adalah suatu statement yang menyatakan bahwa "sekolah ya di sekolah, di rumah ya di rumah."
"Iyalah ga peduli. Orang itu udah cara paling 'aman' buat tetap melanjutkan dunia pendidikan indonesia dalam kondisi begini kok, rin. Lagian apa gaenaknya sih? Kita kan jadi bisa pura-pura nyimak kelas sambil ngegame, sambil nyetem gitar, memetik daun teh, menyelamatkan dunia..."
Well... Iyasih, aman buat kesehatan. Tapi yakin ga, aman buat kualitas generasi dan masa depan kita semua? Angkatan yang lulus tahun 2020 memang terdengar memalukan dengan gelar 'Lulusan Korona', tapi bakal lebih malu mana sama angkatan kami, lulusan 2021, yang nantinya dapet gelar 'Lulusan Google' atau 'Lulusan Brainly' ? Memang, nilai raport dan rata-rata kami akan terjunjung tinggi-tinggi sekali; but ayolah, kalo kuantitas oke tapi kualitas nol, apa yang bisa kita harapkan dari generasi ini?
Pendapat bahwa 'sekolah di rumah itu enak karena bisa sambil rebahan' pun rasanya sudah tidak lagi relevan buat gue. Makin lama, kita makin sadar kalo sekolah di rumah itu gaada enaknya sama sekali. Kendalanya ya gak jauh-jauh dari gaada sinyal, gaada kuota, gaada memori, gaada gadget, atau yang paling parah; gaada ketenangan.
Ya—TOLONGLAH.
Seperti yang gue bilang di atas, masih banyak orang tua dan orang muda yang berpegang teguh pada dalil "sekolah ya di sekolah, di rumah ya di rumah." yang mana, gue sebenarnya setuju. Ibaratnya kita di sekolah udah pacaran sama buku terus, masa di rumah mau berduaan sama buku lagi? Kan ga asik. Karena di sekolah kita udah jauh sama keluarga, di rumah adalah kesempatan untuk memperbanyak interaksi sama keluarga dong ya?
Lah dalam kondisi kayak sekarang ini, kita dilatih untuk bisa membagi waktu di rumah se-efisien mungkin; kapan buat ngerjain tugas, kapan buat absen kelas, kapan nyuci piring, kapan nyapu, kapan bikin presentasi, dan kapan buka tiktok serta kapan twitteran.
TAPIII tentu sajaa, meskipun kita di depan layar dengan dalih 'belajar', tetap ada beberapa orang tua yang nganggep sekolah itu ya cuma pake buku, pensil, penggaris, sama penghapus. Mereka mana paham Google Classroom sama Google Meet, yekan? Karena ya dari dulu kulturnya udah gitu; kalo bukan kamu sendiri yang ngasih mereka penjelasan dan pengertian, gimana mereka bisa paham bahwa zaman ini sistem belajar kita udah upgrade?
Maka dari itu; kepada pemerintah dunia, tolonglah adakan perpanjangan semester :") Karena cara ini mungkin adalah salah satu yang bisa 'membayar' ketertinggalan generasi kami selama satu semester kebelakang; kepada para orangtua dan adek-adek serta keluarga, mengertilah bahwa waktu kami di depan layar itu sebagian besar 'belajar', bukan sekedar scrolling instagram; kemudian, kepada guru-guru tercinta kami, maaf kalo kami nugasnya ngaret terus dan kadang lupa absen :"D; lalu, kepada kawan-kawan seperjuangan dan pembacaku sekalian, bersabarlah :") Tetap semangat belajar walau mata panas natep layar terus, tetap absen kelas walau kuota tengah menjemput ajal, dan tetap jaga imunitas tubuh serta taati protokol kesehatan ya! Biar semua ini lekas berlalu, dan kita bisa haha-hihi lagi kayak dulu.
Sekian deh curhatan gue kali ini. See ya on another upcoming post! 💛💛
Sincerely,
Safarina.

Apa gitu kek
ReplyDelete... what a genius.
DeleteBtw semoga konoha cepat menghilang dari muka bumi, supaya saya bisa segera ....... Gatau mau ngapain.
ReplyDeleteyahh nanti naruto pulangnya kemana dong? :((((
Deleteehh aamiin deng :"
DeleteFans ❤️🥺
ReplyDeleteFansnya siapa hayo :v
DeleteAstaga, Angga 😭
DeleteKemana ajaaaa
Notify me.
DeleteHueeeee
Deletewow
ReplyDeletewow? :"D
DeleteSee you next...
ReplyDeleteterimakasih sudah menunggu :")
DeleteDateng dari discord ruang belajar :), cuman mau bilang, semangat nulis blog nya!
ReplyDeleteomg terimakasih sudah mampirr!!! lotta love!! terimakasih!!
Delete