Well, udah lama banget gue ga curhat di sini; untuk curhatan kali ini, gue nulis langsung, tanpa contekan maupun catatan apapun.
So... Sekarang... Gue mau curhat tentang peringkat gue di kelas 11 semester 1 ini, yang menurut gue sudah bisa dikategorikan sebagai angka 'terjun bebas'.
Kalo kalian belum tau, salah satu cita-cita besar gue adalah jadi seorang relawan PBB, yang mana cita-cita tersebut tentunya mengharuskan gue untuk jadi sarjana di bidang kedokteran, seenggaknya Strata 1 dan punya pengalaman praktek minimal dua tahun.
Nah jadi, nyokap gue punya satu prinsip tentang masa depan perkuliahan gue, yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, yakni : "No beasiswa, no kuliah." Prinsip itu beliau patenkan pada tahun pertama gue di MAN ini. Biar gue semangat belajarnya, mungkin.
Waw bruh, bisa dibayangkan otak gue jungkir baliknya gimana biar bisa kuliah?
Oke setelah mengumpulkan beberapa info, (jiahh) gue menyimpulkan bahwa there's 3 easiest and most possible ways for me to get the scholarship; ada 3 jalan termudah dan paling mungkin buat gue biar bisa dapet beasiswa, yaitu:
- Jalur Raport, yang ini caranya nanti univ tujuan lo bakal memindai nilai raport lo selama 3 tahun belajar di SMA; kalo saat dibikin grafik nilai lo nanjak terus, atau minimal konstan di angka-angka besar, selamat, lo bisa dipertimbangkan sama univ tersebut buat jadi mahasiswanya.
- Jalur Prestasi, kalo yang ini, selama SMA lo tekun banget di bidang apa? Berprestasi banget di bidang yang mana? Punya piagam di bidang itu berapa lembar? Nilai-nilai lo semasa SMA di bidang ini apakabarnya? Jawaban terbaik dari segala pertanyaan tadi bisa jadi jalan pintas buat lo masuk ke univ impian lo langsung di jurusan di mana bakat lo berada. Buat gue pribadi, yang tipe orangnya 'setia banget' alias kalo udah fokus sama satu hal gabisa fokus ke yang lain juga, opsi kedua ini kane banget mamen. Misal nih ya, lo bakat di Bahasa Inggris, trs semasa SMA tuh lo kembangin english lo abis-abisan; lo ikut olimpiade dimana-mana, nilai ulangan english lo gede-gede, ikutan speech contest, piagam bertumpuk-tumpuk, aktif di kelas, UN english lo juga mendekati sempurna... Behh, tinggal blusak-blusuk dah lo ke jurusan bahasa inggris kampus mana aja. Ga peduli nilai matematika lo jeblok, kimia lo anjrot, fisika lo minus, kalo lo udah ada satu bidang yang jadi target lo dan lo kuasai, lo jelas jadi rebutan jajaran universitas.
- Jalur Tahfidz. Wahh, ini jalur paling indah sekaligus paling SUSAH buat ditempuh. Minimal, untuk bisa meraih hati para panitia PPMB, lo harus hafal lima juz. Itu udah MINIMAL. Belum ditambah beban murajaah serta reputasi dan harga diri yang harus lo junjung tinggi-tinggi sebagai mahasiswa berstatus hafidz/hafidzah. Padahal, ngehafalin Al-Qur'an Al-Kariim itu butuh tiga komposisi utama, yakni niat yang mantap, tekun yang murni, dan hati yang suci. Lah bruh, apadaya gue yang hobinya gibah sana-sini uhuhuhu harapannya secuil butiran debu buat ngehafalin firman Allah yang sesuci itu 😭
Yah, dan bisa ditebak; begitu sembuh, gue susulan. Satu hari nyusul delapan mapel TANPA BUKA BUKU.
Haha. Haha. Ha. Gembelengan sekali aing ini.
Setelah hasil dibagi, dari 34 murid kelas gue pada saat itu, lo tau gue peringkat berapa berkat kenekatan susulan gue?
Sembilan belas. I repeat SEMBILAN BELAS like whaaattt gue langganan sepuluh besar sejak MI woyy kaget banget liat angka satu dan sembilan dijejerkan di raport gue huhuhu 😭
Okey sudah sedihnya. Singkat story gue masuk semester dua yekan, trs UKK yekan, dan gue sehat-sehat aja disini. Aaaandd guess what's the number beside my name in my report book?
Angka sembilan di semester sebelumnya ilang cuy.
Yes. I'm the one, guys. Gue ranking satu. SATU GUE BILANG. SEMBILAN BELAS JADI SATU yaallaaah rasanya kayak amal-amal gue semasa hidup dikalkulator sama malaikat trs gue disuruh masuk surga; lega banget cuyyy 😭 Ranking gue melejit naik. Otomatis grafik raport gue naik alias universitasku I'm comiiingg 😭💛
Dan akhirnya gue bertekad; "Oke. Gue udah di puncak rantai makanan. Sekali di puncak gue harus tetep di puncak. Ayo Rin, demi kuliah gratis!"
But... Ya... U know, niat emang gampang, ngejalaninnya yang allahuakbar.
Mepet ujian semester satu di kelas sebelas ini, sesuatu datang menimpa keluarga gue. Yang mana sesuatu tersebut sangat berpengaruh buat psikis gue karena gue sampe sering begadang, gabisa fokus belajar, dan tentunya, ga semangat sekolah. Gue juga jadi banyak absennya di kelas dan sering terlambat masuk sekolah, serta SELALU telat nugas; maka kayaknya semua itu jadi pertimbangan buat para guru untuk menerjunkan ranking gue di semester satu ini. Tebak gue ranking berapa?
Ranking pertama gue di MAN dikurangi tingkatan kelas gue sekarang. Yup, gue ranking delapan.
Sembilan belas jadi satu, dan satu jadi delapan.
Artinya, grafik gue nanjak, lalu turun. Njot-njotan. Bukan nanjak terus atau konsisten di jalurnya kayak persyaratan yang sudah tersebut tadi.
Artinya juga, gue gabisa berharap beasiswa dari nilai-nilai raport gue lagi.
Artinya lagi, gue cuma bisa milih dua jalur sisanya; prestasi fokus, dan hafalan qur'an.
Yaraabbb aku kudu piyeee 😭
Honestly, ada 2 bidang yang sama-sama pengin gue selami lebih jauh, yaitu biologi dan bahasa inggris. Alasannya sederhana sih; gue harus tau isi-isinya manusia kalo gue mau jadi dokter apalagi relawan, gue juga perlu belajar bahasa inggris karena oh man, yakali dikirim ke Afghanistan gue cuma bisa ngoceh ngapak doang. Da hell.
Then, entahlah. Setelah gue dapet ranking delapan ini, indra ketujuh gue menangkap sesuatu; bahwa teryata, sistem ranking di Indonesia itu ga selamanya punya positive effect, kayak memotivasi anak-anak biar makin saingan belajar, tanpa mengetahui kalo semua anak ga harus pintar di matematika, fisika, kimia, antropologi, apalagi geografi. Lagian malaikat Munkar Nakir besok gaakan nanyain grafik invers apalagi lempeng eurasia woyyy 😭
Gue jadi inget, ada kutipan di salah satu bacaan gue, bunyinya gini;
"Seekor ikan akan merasa paling bodoh jika ukuran pintar adalah memanjat pohon layaknya kera, dan seekor kera akan merasa paling bodoh jika ukuran pintar adalah berenang layaknya ikan."Wah, kutipan ini 'sesuatu' banget menurut gue. Kutipan diatas dengan sangat gamblang menjelaskan, bahwa ukuran kepintaran setiap orang ga selalu harus diukur pake satu kriteria. Yang gue maksud dengan kata 'kriteria' di negeri kita adalah 'ranking'. Like hell, calon atlet hebat ga butuh belajar tekanan hidrostatis, calon petinju ternama ga perlu belajar biosistematika dan calon Chief Executive Officer ga butuh belajar integral, kan?
Ga cuma dokter dan arsitek yang bisa bahagia dan jadi orang kaya. Atlet dan seniman juga bisa, ya ga sih?
So, dengan ini, dengan gue terjun di angka delapan ini, gue dapat sebuah pelajaran--bahwa parameter kecerdasan dan kesuksesan setiap orang itu ga bisa disamakan dengan sebuah sistem yang selama ini kita sebut dengan; ranking.
Anyway, kemarin, mulai Senin tanggal 27 Januari 2020, gue ada bimbingan intensif OSN Biologi se-provinsi di Semarang selama lima hari. Dannn gue seneng banget bisa dibimbing langsung sama dosen-dosen dari UI dan IPB yang uda pernah ngewakilin indonesia sampe internasionaalll 😩🙏
So guys, yang perlu kalian ambil dari curhatan gue kali ini adalah; 'We all are special the way we are :)' So, jangan pernah minder kalo kalian kurang bisa di bidang akademis. Hobi dan bakat kalian di bidang yang lain minta perhatian yang lebih buat masa depan nanti!💛
Sekian, thanks for reading! 💗
Love,
Safarina.
komen lah biar ga sepi
ReplyDeletesangat memotivasi
ReplyDeletei love it