Wednesday, August 12, 2020

(Just) A Birthday Letter

 Kepada Engkau, panglima yang entah bagaimana caranya menjadi pangeran.

Hei, ingatkah Engkau padaku?

Yang merindumu sebelum dan sesudah tidurku.

Yang menginginkanmu di setiap malam dan siangku.

Yang pernah disakitimu, sekaligus menyakitimu?


Kepada Engkau, yang telah kurindu selama seratus satu hari.


Aku tidak tahu kau itu apa sampai aku begitu candu akan hadirmu.

Aku tidak tahu bagaimana kabarmu di sana, sementara aku merindumu setengah mati di tanah kelahiranku.

Aku tidak tahu, apakah hatimu masih setia menambat pelabuhan yang sama denganku, atau sudah berlayar entah kemana mengarungi samudra logikamu.

Dan aku tidak tahu, bagaimana awalnya aku terjatuh dalam pesona imajinermu.

Haha. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tetangmu.


Kepada Engkau, mercusuarku.


Rindukah Engkau pada Si Gadis Pelukis Mantra?

Rindukah Engkau, pada malam-malam di Antares yang kita lalui bersama?

Rindukah Engkau, menikmati roti deskripsi bertabur mentega imajinasi kita?

Rindukah Engkau padaku?


Kepada Engkau, Sang Petinju Pecinta Kucing.


Janganlah Engkau cemas perihal hari ini.

Janganlah Engkau merasa sendiri, karena aku masih ingat semua harapan besarmu yang berusaha kau gapai hari demi hari.

Janganlah Engkau rindu pada segala canda serta tawa kita yang seolah telah mati.

Jangan pernah. Karena itu mungkin tak akan terulang kembali.


Kepada Engkau, Dirgantaraku.


Aku tahu kau begitu ingin mendengar lisanku menjadi yang pertama mengucapkan 'selamat' atas hari besarmu ini.

Aku tahu kau menyukaiku seperti halnya kau menyukai seni.

Aku tahu, sanubari kita sama-sama mengalirkan beragam rasa yang sukar dibendung.

Aku tahu kita saling mendengar rindu satu sama lain, yang tertambat di dermaga, dijemput awan-awan milik oktober, ditiup anak-anak angin, serta dihanyutkan di muara sungai oleh siulan belibis.

Aku tahu, itu pernah terjadi.


Kepada Engkau, yang angka usianya bertambah di hari ini.


Selamat bertambah umur, Dirgantara.

Semoga segala inginmu lekas tercapai tanpa perlu sirna.

Semoga Engkau dapat menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.

Hamba yang taat sekaligus dermawan.

Anak yang dicintai sekaligus dibanggakan.

Murid yang dicari sekaligus diidolakan.

Rekan yang setia sekaligus toleran.

Dan pria yang disayangi sekaligus dihormati oleh kawan maupun lawan.

Ingatlah; doaku menyertaimu bak malam menyertai senja.


Kepada Engkau, yang bersinggasana di pikiran dan hatiku.


Maafkan aku yang tak dapat memberimu apa-apa di hari istimewamu.

Maafkan aku, yang hanya bisa merangkai kata demi kata berselubung doa untukmu.

Maafkan aku, yang seringkali menyakitimu hingga kau muak berjumpa denganku.

Maafkan aku, yang hanya sanggup memberimu rindu.


Kepada Engkau, dua A, dengan D, H, dan Y.


Kuharap Engkau membaca apa yang kutulis di sini.

Kuharap Engkau mendengar, bahwa aku sedang berusaha baik-baik saja tanpa hadirmu di sisi.

Kuharap Engkau lekas kembali pada pelukku yang semu bak gerak mentari.

Kuharap Engkau mengingatku, meski sebatas kilas balik yang tercecer dalam memori.

Kuharap suatu masa nanti, retinaku bisa menangkap bayangmu dalam nyata. Bukan lagi mimpi.

Kuharap Engkau sukses, sehat selalu, dan mampu membahagiakan mereka yang Engkau cintai.


Selamat ulang tahun. Aku sayang padamu.



Cilacap; Senin, 22 Oktober 2018.

Dari ia yang menanti pertemuan kita,


Maulida Safarina

So ... ini sejatinya cuma 'birthday letter' asal-asalan buat seseorang, dua tahun lalu pas gue masih rada naif. Wkakaka. Karena menurut gue lumayan, gua taruhlah di sini~ 🙈 Gue sebut karya ini asal-asalan karena gue ga yakin ini masuk genre puisi atau lainnya, ehe. Bukan anak bahasa soalnya. 😶

Aturannya simpel, sebenernya. Satu, ngambil quote dipersilakan, asal sertakan credit; dua, gausah nanya ini buat siapa 😂😂 (karena kalau Anda cukup pintar, di atas udah gue sebut namanya :3) ; dan tiga, jangan diambil semua trs dimodif ndee :)) Kreatif dikit lah woy, yakali uwu lo modal copas wkwkwkwk 😹

Oh dan, postingan ini tanpa edit maupun revisi. Jadi berbagai kesalahan bolela dimaqlumi~ ;)

Dahlah segitu aja. Kripik dan santan sangat diharapkan untuk kemajuan penulis semata. See ya on the next post! 💛


Proudly yours,


Safarina.

4 comments: