Friday, December 13, 2019

Bintang, Kelahirannya, dan Kematiannya.

Source : Pinterest

. . . .
Yuhuuu~ I am back!
Kali ini, supaya bolos sekolah gue bermanfaat (ehek), gue mau nulis disini, tentang titik-titik putih yang selama ini ngehias langit malam kita, sekaligus jadi petunjuk arah untuk para pelaut, dan jadi sumber inspirasi buat para sastrawan legendaris, yaitu: bintang.


Mari kita awali postingan ini dengan sebuah pertanyaan; 'Apa itu bintang?'

Menurut KBBI, bintang merupakan benda langit yang mampu memancarkan cahaya dan memproduksi energi sendiri. Jadi, segala hal yang ada di langit, yang bercahaya dan bisa menghasilkan energi dari intinya sendiri, bisa kita namain bintang.

'Tapi rin, bukannya benda bercahaya di langit itu ga cuma bintang? Kan ada bulan juga. Ada planet yang bisa memantulkan cahaya bintang terdekat juga, yekan? Terus cara ngebedain benda langit itu memancarkan cahaya sendiri sama yang 'numpang bercahaya' doang tuh gimana?'

Yo, satu-satu bruh. Ini baru mau dibahas.

Well, benda bercahaya di langit itu emang ga cuma bintang. Ada Si Purnama, yang indah banget diamati beserta fase-fasenya, dan ada juga planet-planet yang mampu memantulkan cahaya berkat atmosfer planetnya yang punya komposisi unik. Tapi perlu lo perhatiin, titik-titik putih di langit malam itu ga semuanya kelap-kelip. Kalo lo kebetulan baca postingan ini pas malam hari dan lagi banyak bintang, lo keluar rumah deh. Perhatiin langitnya; ga semua titik-titiknya kelap-kelip, kan? Ya. itu adalah salah satu cara sederhana buat bedain bintang dan benda langit lainnya yang cuma 'numpang bercahaya' doang; bintang itu kelap-kelip, karena gas dalam intinya berfusi dan saling membakar, mengubah hidrogen menjadi helium terus-menerus, jadi dia kelap-kelip kalau dilihat dari jauh. Hukum sebaliknya berlaku buat benda langit yang bukan bintang; mereka ga kelap-kelip, karena emang mereka ga ngehasilin energi sendiri dan cuma memantulkan cahaya dari bintang terdekat di sekitar mereka, alias gaada pembakaran/fusi gas dalam inti mereka.

'Loh, tunggu rin, berarti matahari itu termasuk bintang, dong? Kan dia memancarkan energi sendiri?'

Exactly yes! Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan bumi. Makanya cahayanya bisa sampe ke pulau-pulau di bumi meskipun jaraknya jutaan kilometer; karena emang energinya besar banget. Maka sesungguhnya, titik-titik putih di langit malam yang kalian namai bintang itu ratusan kali lebih besar dari bumi tempat tinggal kita ini. Bahkan bisa jadi lebih besar dari matahari kita! Seandainya ada yang tinggal di galaksi tetangga atau tata surya lain, pasti matahari kita juga keliatannya cuma pas malem mereka doang, sebagai salah satu dari sekian titik putih di langit, tentu saja.

Sampai sini, semoga lo paham, kerena pembahasannya masih panjang.

The Birth of A Star

'Bagaimana sebuah bintang lahir dan terbentuk?'

Kalo kalian peminat astronomi, kalian pasti familiar sama teori Big Bang, kan? Ga ga, bukan Big Bang Boyband korea itu, bukan. Big Bang adalah salah satu teori kelahiran alam semesta yang dipercayai oleh sebagian besar astronom, yang mana teori tersebut menyatakan bahwa terbentuknya alam semesta diawali dengan sebuah Ledakan Besar.

Kronologinya, kayak begini (Siapkan popcorn, kawan! Kita akan menjelajah ruang dan waktu!);

Dahulu, miliaran tahun yang lalu, tidak ada suatu apapun di alam semesta ini; debu sekalipun, oksigen sekalipun, atom sekalipun, waktu sekalipun, bahkan gas semungil apapun. Hanya ada ketiadaan mutlak yang mengisi ruang hampa di seluruh semesta.

Tiba-tiba, tanpa diketahui alasannya, sebuah ledakan yang amat besar terjadi. Ledakan besar yang menghasilkan banyak materi baru yang tadinya tiada, ledakan besar yang mengawali lahirnya bintang-gemintang dan galaksi yang siap mewarnai setiap ruang kosong yang disediakan langit malam, serta Ledakan besar yang menandai bahwa waktu mulai diputar dan peradaban akan bermula.

Detik pertama setelah ledakan tersebut terjadi, debu ledakan itu berterbangan ke segala arah di angkasa. Terlempar tak beraturan tanpa terikat gravitasi apapun, hingga debu-debu tersebut berada amat jauh dari tempat ledakan terjadi.

Lima detik untuk lima ratus juta kilometer, tujuh detik untuk tujuh miliar kilometer, hingga waktu terus berlalu, membiarkan debu-debu tersebut saling menjauh hingga nominal yang tidak mampu disebutkan oleh bibir manusia.

Setelah tahun-tahun kelabu dengan pergerakan debu angkasa yang acak tersebut berlalu, sebuah fenomena ajaib terjadi; debu-debu tanpa arti tersebut berkumpul, membentuk koloni-koloni sendiri sembari berpusar, berusaha menciptakan energi dari inti pusaran masing-masing.

Seperti yang kita alami saat mengaduk sereal terus menerus secara berputar, sereal itu akan berkumpul di permukaan, menggumpal di tengah mangkuk; begitupun dalam fenomena ini. Pusaran debu tersebut mulai menggerombol dan memadat di intinya; membentuk sebuah gumpalan dengan inti yang terus berputar, menghasilkan gravitasi pribadi dan energi yang semakin panas seiring berlalunya waktu. Energi panas tersebut membuat intinya kian berpijar, dan gumpalan debu itupun kian memanas, membuatnya lambat laun berubah wujud; bukan sekedar padatan debu lagi, ia bertransformasi menjadi sebuah bola api yang memancarkan cahaya pada sekitarnya.

Di sinilah, sebuah bintang terlahir. Sementara sisa-sisa debu yang masih mengorbit padanya ikut bersinar, berkat energi yang mereka hasilkan bersama. Bersemu panas dengan warna jingga, ungu, dan biru; cantik sekali.


Ini dia, Sang Nebula. Indah, bukan?
Source : Google

Seiring jutaan tahun berlalu, debu tersebut mengilang. Mempersilahkan Sang Bintang untuk memancarkan cahayanya sendiri seutuhnya; tanpa ada penghalang pada sekitarnya.

Sampai sini, bintang mulai memancarkan energi dari dalam intinya. Menghabiskan energi dalam intinya butuh waktu yang berbanding terbalik dengan ukurannya; semakin besar bintang tersebut, umurnya akan semakin pendek (hanya beberapa juta tahun). Sebaliknya, bintang-bintang berukuran kecil memiliki masa hidup yang lebih lama, sekitar ratusan miliar tahun.

Tebak, matahari kita termasuk bintang katai (kecil), bintang Giant (raksasa), atau Supergiant (maharaksasa)? Jawab di kolom komentar, ya!

Hingga energi dalam inti mereka habis dibakar, akhirnya mereka siap untuk menjemput maut.

The Death of A Star

Setelah jutaan hingga miliaran tahun bintang tersebut hidup, akhirnya, ia sampai pada petuah, bahwa 'Segala yang pernah lahir, pasti akan mati.'

Semakin bintang mendekati kematiannya, sebuah bintang akan membengkak seratus kali lipat dari ukuran sesungguhnya. Mari kita ambil saja matahari sebagai contoh; jika ia sudah mendekati waktu kehabisan energinya (Mungkin beberapa tahun, atau beberapa bulan, atau hari, atau jam?), matahari akan membengkak seratus kali ukurannya yang kita lihat saat ini. Pada saat itu, bisa dipastikan, orbit Merkurius hingga (kemungkinan) Jupiter tertelan seutuhnya.

Sederhananya, bumi hancur. Terbakar habis-habisan.

Okay, mulai sekarang mari perbanyak istighfar, karena kita tidak tahu kapan pastinya matahari kita akan mengalami fase mengerikan seperti di atas :')

Selanjutnya, setelah membengkak sembari menghabiskan seluruh energi yang tersisa dalam dirinya, Sang Bintang akan kembali pada fenomena saat ia dahulu pertama terbentuk; ia akan meledak. Melepaskan seluruh gas yang terkandung selama fasenya membengkakkan diri, menghadirkan kembali kabut nebulla yang dahulu menemaninya lahir, memancarkan gelombang radio besar, dan tentu saja, merusak segala yang terkena semburan materinya dengan kecepatan 30.000 Km/s.


Perkenalkan, ini Sang Supernova. Ledakan besar penutup usia Sang Bintang.
Source : Google.

Ledakan ini biasanya memerlukan durasi sekitar lima puluh tahun untuk mereda. Setelah ledakan ini mereda, ada dua cara yang mungkin dialami sebuah bintang untuk menuntaskan usianya;

Cara pertama (biasanya dialami oleh bintang kecil); setelah Supernova mereda, bintang tersebut akan berubah ukuran menjadi seratus kali lebih kecil dan lebih padat dari ukurannya saat stabil dahulu (bintang kerdil/katai/neutron putih, seukuran planet Jupiter). Saking padatnya, sangat mungkin jika kepadatannya mencapai satu ton per kubik. Tapi, ia tidak akan berpijar dan memancarkan energi sekuat dulu lagi, meskipun ia masih tergolong sebagai sebuah bintang. Kemudian bintang kerdil tersebut terus menghabiskan energinya yang tersisa sembari terus meredup, hingga akhirnya energi itu benar-benar habis dan ia kehilangan cahayanya, kemudian ia dinamai sebagai bintang katai cokelat. Tanpa fungsi dan tampilan yeng berarti, menjadi sampah yang bergeming tanpa makna di angkasa.


Kau lihat benda angkasa cokelat itu? Ya. Dialah Katai Cokelat.
Source : Google.

Cara kedua (biasanya dialami oleh bintang Giant & Supergiant); sesuatu yang aneh terjadi pada ledakan Supernova; ledakan itu tidak mau mereda dan terus berpusar selama ratusan tahun, membuat bintang yang menjadi inti ledakan itu kembali mendapatkan energi yang jauh lebih besar daripada saat ia stabil dahulu. Tetapi, ia tidak lantas menjadi bintang kembali seperti dulu; ia berubah menjadi Pulsar, neutron putih yang terus berputar bak gasing. 


Pulsar PSR J1509-5850; one of the most beautiful Pulsar in the universe.
Source : Pinterest


Memancarkan gelombang radio dan Sinar X, serta menangkap elektron yang terlepas saat inti bintang lain runtuh dan melewati tempatnya berputar. Atau, ada kemungkinan lain selain terbentuknya pulsar sebagai hasil akhir dari Supernova yang tak kunjung reda; Lubang Hitam. Hasil dari penumpukan gravitasi besar di inti Supernova, hingga membentuk kurva melengkung yang merupakan jebakan antara ruang dan waktu yang bisa menyedot apapun yang dilaluinya (ya, dia bergerak semaunya), bahkan cahaya sekalipun.


Presenting for you, bois, a Black Hole; The Most Amazing but Terrifying object of all time.
Source : Wikipedia

Lubang hitam ini mempunyai berbagai ukuran, dari yang mikroskopis sampai yang sebesar galaksi, dan akan menghilang apabila terjadi proses Radiasi Hawking, yang sederhananya adalah terbongkarnya satu per satu komponen dari lubang hitam ini, hingga akhirnya ia terus mengecil seiring berjalannya waktu, dan yah--ia hilang dijemput ketiadaan.

So guys, segala penjabaran gue di atas adalah satu dari sekian fenomena yang hanya bisa dikendalikan oleh Sang Maha Kuasa, yang mana gue harap bikin kita membuang jauh-jauh rasa bangga terhadap diri sendiri, karena sejatinya kita bahkan bukan apa-apa dibandingkan segelintir ciptaan-Nya di atas sana. So, stop jadi manusia sombong! 👌

Sampai di sini, Safarina pamit undur diri, and as always, thank you for reading! 💛


Blogger,


Safarina.

13 comments:

  1. setelah nyari² refensi lainnya, matahari termasuk bintang katai (kecil) maybe, coz matahari uda ada selama 4,603 miliyar tahun.
    meski otak gue kurang nyampe bahas beginian wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw demi apapun gue kek baca ff sya

      Delete
    2. Yo. Makasih ya udah mampir dan berpartisipasi ngejawab pertanyaan gueee <3

      Delete
  2. Replies
    1. Sejak kapan kita satu garis silsilah? awokwok. Tapi makasih ya udah mampir <3

      Delete
  3. Oke,telat. Gud neng 😉
    Besok bahas rasi bintang ya😂 Enak beneran bahas ginian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okeee bismillah ya. Terimakasih untuk saran dan kunjungannya! <3

      Delete
  4. Replies
    1. uwuable lagi kamu, yang rela mampir dan nyempetin baca. Makasih yaa <3

      Delete
  5. GW GAK TAU MATAHARI TERMASUK BINTANG YANG MANA :( INTINYA TOBAT GES, SEBELUM TERJADI DUAR.

    ReplyDelete
  6. Masih suka ngurusin angkasa Raya ternyata no anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf mbak, salah server. Yang ngurusin angkasa raya itu Allah, bukan aing :)

      Delete