Rekam medis pasien yang baru digarap setengah itu ditatapnya tidak niat. Wanita itu meletakkan bolpennya, menyandar pada kursi kerja dan berputar-putar malas.
Nama psikiater itu Rina, dan ia baru bertengkar hebat dengan suaminya : Aran. Masalahnya sepele, sebenarnya: Rina memintanya untuk mengantar dirinya ke rumah sakit pagi tadi, tapi Aran menolaknya dan berkata bahwa ia mau bermalas-malasan di apartemen saja--ya, mentang-mentang ia sedang kosong tugas, tapi tetap saja, manusia macam apa yang bermalas-malasan di hari senin?!
Jengkel, Rina akhirnya merajuk. Sedang menuju pintu, suaminya malah menggumam bahwa dirinya manja. Hell, ucapkan terimakasih pada mood Rina yang sedang buruk, karena akhirnya mereka adu mulut di apartemen pagi itu. Berteriak-teriak seperti orang kerasukan satu sama lain. Akhirnya, psikiater itu berangkat ke rumah sakit dengan mood hancur dan hati nyut-nyutan. Karena merasa kinerjanya tidak akan maksimal dengan suasana hati seperti ini, Rina memutuskan untuk mampir ke cafe favoritnya; menenangkan diri di sana.
Baru setengah jam ia tenang dan berniat beranjak menuju rumah sakit, sebuah pesan masuk dari suaminya kembali menyulut emosinya:
'Katanya berangkat ke rumah sakit, kenapa GPS ponselmu kutemukan di cafe? GPS-mu yang error atau kepercayaanku yang error?'
Halah peduli setan! Nyaris saja ponsel itu dibanting dari genggaman Rina, saking kesalnya. Beruntung wanita itu lumayan sabar, maka akhirnya ia hanya menghela nafas dan beranjak menuju rumah sakit; memutar lagu-lagu dari boyband favoritnya sepanjang hari dalam ruangannya. Tampaknya, Tuhan sedang baik padanya karena hari ini pasiennya tidak begitu banyak. Ia tidak bisa membayangkan jika pasien yang datang berkonsultasi padanya hari ini berbondong-bondong seperti hari-hari biasa--bisa-bisa, ia meledak-ledak di depan pasiennya nanti. Memalukan.
Kini, Rina sama sekali tidak menghubungi suaminya sejak pagi, sementara jam digital di meja Rina sudah menunjukkan angka 21.20.
Rina menumpukan pipi kirinya pada lipatan tangannya di meja. Perutnya meronta-ronta minta diisi sebab ia belum makan makanan berat apapun selain sarapan hari ini.
Ditatapnya ponsel yang tergeletak malang di ujung mejanya. Jujur, ia rindu suaminya. Biasanya jika sudah melewati pukul sembilan, prianya itu akan membombardir chatroom mereka dengan pesan-pesan seperti:
'Hei, kukuliti kau kalau lupa makan malam.'
'Rina? Kau tidak menguap di depan pasien-pasienmu, kan?'
'Kau akan melihat dapur hancur jika pulang di atas jam sembilan.'
'Jangan tidur di meja. Kau akan terkejut melihat bakatmu mencetak peta.'
Dan pesan-pesan konyol lainnya yang menyatakan secara tidak langsung bahwa suaminya itu ingin ia cepat pulang, atau mengkhawatirkannya.
Lucu, memang. Tapi inilah yang membuat mereka erat. Rina tersenyum mengingatnya, memejamkan mata. Pesan-pesan itu sama sekali tidak ada yang memasuki ponsel Rina malam ini.
'Tok Tok Tok...'
Ia mengernyit sebentar sebelum mengangkat kepalanya. Ketukan di pintu membuatnya berpikir; pasien macam apa yang berkonsultasi selarut ini? Oh, Rina ingat--pria-pria patah hati selalu mengunjunginya di jam-jam seperti ini. Jadi ia merapikan kerudungnya, lalu bergumam, "Masuk,"
Dan itu benar seorang pria, yang membuka pintu ruangannya. Pria itu mengenakan hoodie bertudung dan menunduk, sehingga wajahnya tak tampak sama sekali. Dokter kejiwaan itu sudah memaklumi orang-orang yang kelewat depresi, maka ia tidak terkejut lagi mendapati pasien berpenampilan aneh seperti ini.
"Selamat datang~" sambut Rina, "Oh, silakan duduk!" tangan Rina memberi isyarat menyilakan.
Setelah pria itu duduk di hadapannya (masih sambil menunduk), Rina mengambil selembar HVS dari laci mejanya, lalu tanpa memaksa pria itu mengangkat wajahnya, Rina memancingnya berbicara:
"Karena kau datang larut malam dan tidak berbau alkohol, biar kutebak: apa kau mau bercerita tentang keluargamu?" Rina menggenggam bolpen. Pria itu mengangguk pelan, tanpa membuat suara.
Rina mulai merasa horror sendiri.
"Okay," Ia menorehkan sesuatu pada HVS, "Aku akan menunggumu siap bercerita." Rina tersenyum pada pasiennya yang masih menunduk, "Biar kunyalakan musik, ya?" Ia mengutak-atik MP3 player di sisi mejanya, dan instrumen piano menenangkan mulai terdengar, "Sebelumnya, aku ingin bertanya sesuatu, boleh?" Rina memusatkan perhatiannya pada si pasien yang masih menunduk.
Pasien itu mengangguk. Rina tersenyum; semoga pasiennya ini tidak sulit dimintai jawaban.
"Baiklah, pertama," wanita itu menyamankan genggamannya pada bolpen, "Apa ini tentang ibumu?"
Pria itu mengangguk pelan, lalu mengangguk. Saat Rina baru saja membuka mulut untuk menuju pertanyaan selanjutnya, pria itu tiba-tiba bersuara:
"Ya, ini tentang ibu." katanya. Gelombang suaranya membuat Rina mengernyit, "Lebih tepatnya calon ibu dari anak-anakku."
Rina mengerjap sebentar. Tunggu, suara ini...?
"Aku sedang bertengkar dengan istriku." Rina tidak berkedip menatap pria yang masih berkisah sembari menunduk itu, "Pagi itu, aku sedang enak-enaknya bermimpi. Lalu ia datang dan meminta tolong padaku untuk mengantarnya ke suatu tempat. Dalam keadaan setengah sadar, aku menolaknya dengan kasar. Akhirnya kami berseteru." Rina berkedip satu kali, masih tidak ingin mengatakan apapun, "Begitu aku sadar sepenuhnya, Si Manis itu sudah pergi." alunan instrumen piano dalam ruangan itu mendadak membuat suasana terasa semakin dingin, "Aku sangat menyesal. Ketika aku mengecek lokasinya, GPS ponselnya menunjukkan bahwa ia tidak berada di tempat seharusnya ia bekerja, melainkan berdiam di cafe. Lamaa sekali." Rina menelan ludah. Pria itu melanjutkan, "Akhirnya aku mengirim pesan sarkas padanya, karena takut ia terlambat masuk kerja. Pekerjaannya kan, membantu orang lain. Jadi ia tidak boleh terlambat." Rina menunduk, menatap bolpen di tangannya.
Pria di depannya ini, tak lain dan tak bukan, adalah Aran. Suami tercintanya.
"Tapi tampaknya aku salah langkah," Aran melanjutkan. Pria itu sekonyong-kongong berdiri, kedua tangannya tertanam di saku hoodie, "Karena pesanku yang berniat baik itu malah membuatnya semakin merajuk hingga ia bahkan tak mau mengabariku." Aran mengeluarkan tangan kanannya, dan Rina membeliak menatap apa yang digenggam tangan kanan pria itu kini: sebuah pisau lipat.
Rina terperanjat, "Tunggu, Aran--apa yang--" kalimat protes Rina tek terselesaikan saat tiba-tiba tangan kiri Aran maju, mencekik lehernya.
"Ahk--Aran!"
Rina hampir menangis. Ia menatap iris suaminya yang menyorot amarah berapi-api padanya, "Aku sudah muak dengan sifatmu yang cengeng dan manja." Pria itu mendesis, tersenyum miring. Rina merinding; itu senyum paling mengerikan yang pernah terpampang di paras tampan Aran.
Oksigen di dadanya menipis, Rina mulai terbatuk perih ketika tiba-tiba suaminya melanjutkan dengan senyum miringnya:
"Jadi... Ada kata-kata terakhir?"
Setetes bening benar-benar lolos dari netra Rina; ia sungguh tidak menyangka kejadian seperti ini dialami olehnya. Jangankan menyangka, bermimpi pun Rina tak sudi! Maka, sembari ia mulai terisak, bibirnya berucap dengan suara parau: "Aran, kumohon--ini salah..."
Suaminya menatapnya tanpa aura iba sama sekali--ia benar-benar seperti bukan Aran.
"Sudah? Hanya itu?" Respon Aran begitu sarkas, "Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal pada netramu." Diameter mata Rina melebar, dan pisau lipat itu meluncur, menuju mata kirinya.
Diujung nyawanya, Rina sempat menjerit:
"ARAAANN!!"
"RINA! SADARLAH!" Rina mengerjap, tersentak. Ia mengedarkan pandangan, bingung ketika mendapati dirinya kini berada dalam kamar tidur apartemennya. Setelahnya, ia menatap kedepan, kearah seseorang yang tengah menggenggam kedua bahunya sembari berbaring miring dengan wajah panik.
"Sayang?" Pria itu menangkup kedua pipi Rina, ''Kau bermimpi apa?''
Suara lembut itu. Tangan hangat itu. wajah rupawan itu; ini baru Aran-nya. Sembari mengatur sengal nafasnya, Rina mengamati wajah cemas Aran; tanpa sadar membandingkannya dengan pria serupa yang tadi dihadapinya dalam mimpi.
Astaga. Perbedaan sifat mereka benar-benar laksana Malik & Ridwan.
Tanpa ragu lagi, Rina merangsek ke dalam pelukan Aran yang ini. Suaminya tampak terkejut sesaat, tetapi kemudian membelai rambutnya perlahan, membiarkan peluh Rina menempel pada kaos pendek hitam yang tengah dikenakan Aran.
"Ssh...Tenanglah..."
Tanpa sadar, Rina mulai menangis di dada suaminya. Suara dan perlakuan lembut Aran benar-benar membuatnya ketakutan jika suatu saat Aran berubah dari sifatnya yang sekarang dan mimpi buruk tadi menjadi kenyataan. Ya Tuhan, apa dirinya memang secengeng dan separno itu?
"Aran." Rina mendongak, sementara Aran menunduk mendengar namanya disebut.
"Iya?''
Rina menggigit bibir sebentar, "Apa aku cengeng?"
Suaminya tampak melirik langit-langit sebentar, "Hmm... Sedikit, sih"
Wanita itu menelan ludah, "Apa aku manja?"
Aran melirik langit-langit lagi, kali ini sambil mengangguk-angguk pelan, "Hmm... Lumayan."
Rina mulai takut, "Apa kau tidak suka istri yang cengeng dan manja?"
Suaminya membeliak menatapnya, "Hei, kalau aku tidak suka, aku sudah mentalakmu sejak kau pertama kali minta digendong karena malas sikat gigi." Aran menyentil dahi istrinya.
"Kau ini habis mimpi apa, sih?"
Rina mengupas bibirnya, membuat pola abstrak di dada Aran yang tercetak gagah di balik kaos,
"Aku bermimpi kita bertengkar," gumamnya, prianya mengernyit, "Dari pagi sampai petang."
Aran terperanjat, "Wah, sungguh? kau saja tidak bisa hidup tanpa mengabariku tiga jam sekali--aw! Yak! Sakit!" pria itu memegangi tangan istrinya yang mulai memukuli dadanya dengan brutal.
"Lalu lalu, Apa yang terjadi selanjutnya?"
Rina kembali menggambar-gambar di dada Aran, sementara Aran menjadikan lengan kirinya sebagai bantal, dan tangan kanannya merangkul Rina dalam pelukan sembari memainkan rambut istrinya sayang. Jangkrik di luar bahkan tampaknya enggan mengganggu adegan picisan ini.
"Lalu, malamnya kau datang ke ruanganku." Rina diam sebentar, kemudian ''Kau menyamar menjadi pasienku, lalu tiba-tiba mengataiku manja dan cengeng, lalu.."
Dahi Aran mengkerut penasaran, "Lalu..?"
Rina menarik nafas, "Lalu kau mencolok mata kiriku dengan pisau lipat." Rina bergidik di akhir kalimat. "Begitulah, jadi kau--" Rina mendongak, dan mendapati suaminya tengah menatapnya dengan ekspresi tak terbaca , "A-Aran?"
Suaminya tiba-tiba merendah ke arahnya dengan netra menyorot tajam; Rina merinding saat Aran tiba-tiba berbisik rendah di depan wajahnya:
"Jadi... Ada kata-kata terakhir?"
Rina otomatis membeliak. Gosh, apa-apaan ini?!
"Aran, kumohon--ada apa denganmu?" Rina menyusut, perlahan menjauhkan tubuhnya dari rengkuhan Aran. Sementara suaminya, masih dengan ekspresi tak terbaca, masih diam di tempat sembari menatapnya tajam.
Dalam kondisi seperti ini, Rina seharusnya merasa takut--tapi, kenapa ia merasa semuanya akan baik-baik saja?
"Aran--berhenti menatapku seperti itu atau aku akan--Aw! Ah--ahahahah! Aran! Geli~! Hentikan!"
Dan, prasangka Rina terbukti benar; ia kini sedang berusaha menjauhkan wajahnya dari Sang Suami yang tiba-tiba menghujani seluruh wajahnya dengan ribuan kecupan. Ia tertawa-tawa sembari mendorong-dorong dada Aran, "Arann~" Ia merengek, mendorong bibir Aran menjauh, "Aku ini bau keringat, tahu!"
Aran mengedikkan bahu, "Salah siapa kau tega memimpikanku sekejam itu," ujarnya bernada tak terima, "Jahat sekali. Aku sakit hati."
Rina buru-buru memeluk Aran, mengusel-usel dada suaminya, "Aaa~ Maaf deh..." Rina membujuk, "Ini salahku karena lupa berdoa sebelum tidur..." sambungnya, menggesek-gesek hidungnya pada dada kokoh Aran, "Janji tidak kuulangi lagi."
Aran balas memeluknya, mencium puncak kepalanya, "Ya sudahlah, lagipula itu hanya mimpi." pria itu menyamankan dagunya di atas helaian rambut Rina, "Sudahlah, ayo tidur lagi. Aku masih mengantuk--aduh!"
Kalimatnya terpotong saat Rina tiba-tiba mencubit perut atletisnya tanpa permisi, "Tidur melulu kau ini. Sholat tahajjud ayo! Mumpung masih di sepertiga malam." Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua pagi, lalu melepaskan diri dari pelukan Aran dan beranjak dari ranjang. "Setelah itu kau boleh tidur sepuasnya, mumpung hari minggu~" Rina tersenyum.
Aran mendesah, memeluk guling tidak rela, "Tapi Rina~ Aku mengantuuk~~"
Sekonyong-konyong, Rina mendelik kearahnya, "Sayang," ia mendesis dingin, "Aku atau gulingmu?"
Aran buru-buru bangkit dan berwudhu setelah mencubit hidung Rina sambil menjawab, "Tentu saja kau, gulingku yang bernyawa!"
======END======
Jangan tanya gue bikin apaan, key? ;) Btw sengaja gue bikin uda nikah biar halal ngapa-ngapainnya. HIYAAAA :D
Regards,
Safarina.
Okay:) i like this story
ReplyDeletemakasii suda mampiirr <3
DeleteKeren mbaaak, sukses terus mbak Ariin 😘😘
ReplyDeleteaamiin mbaa. terimakasih sudah meluangkan waktu buat mampir ke sini yaaa <3
DeleteIni apasihh
ReplyDeleteini... cerpen. Kenapa?
Delete